Halaqoh 25 | Silsilah Belajar Tauhid | Ridha Dengan Hukum Allāh

👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA

📘 Silsilah Belajar Tauhid

Halaqoh 25 | Ridha Dengan Hukum Allāh

~~~~~~~~~~~~~~~

RIDHA DENGAN HUKUM ALLĀH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah Belajar Tauhid kali ini adalah tentang “Ridha Dengan Hukum Allāh”.

Allāh Ta’āla sebagai pencipta manusia sangat menyayangi mereka, Dialah Ar-Rahmān Ar-Rahīm.

Dan di antara bentuk kasih sayangNya adalah menurunkan syari’at supaya manusia mendapatkan kebahagiaan dan terhindar kesusahan didunia maupun akhirat.

Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hukumnya penuh dengan keadilan, hikmah & juga kebaikan, meskipun hal ini terkadang samar atas sebagian manusia.

Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang Muslim dan juga Muslimah untuk:

  • Ridha dengan hukum Allāh.
  • Yakin bahwasanya kebaikan semuanya di dalam hukum Allāh. ⇒ Di dalam segala bidang kehidupan (meliputi) : • ‘Aqidah • Akhlaq • Adab • Mu’āmalah • Ekonomi • Kenegaraan • Dan lain-lain.

Meng-Esakan Allāh di dalam hukum-hukumNya adalah termasuk konsekuensi tauhid.

Allāh berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi seorang laki-laki yang mu’min dan wanita yang mu’minah apabila Allāh & Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain di dalam urusan mereka.

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allāh dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)

Saudaraku, Alhamdulillāh dengan izin dan karunia-Nya sampailah kita pada bagian yang terakhir dari Silsilah Tauhid, yaitu bagian ke-25.

Dan dengan ini saya akhiri silsilah ini. Dan bukan berarti kita sudah merasa cukup. Apa yang disampaikan hanyalah sebagian kecil dari ilmu tauhid itu sendiri.

Belajar tauhid dan mengamalkannya tidak akan berhenti sampai ajal menjemput kita.

Ikutilah majelis-majelis ilmu yang membahas tentang tauhid ini. Bacalah buku-buku yang berkaitan dengan tauhid yang telah ditulis oleh para ulama yang terpercaya.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla merahmati kita semua, menghidupkan dan juga mematikan kita di atas tauhid.

الحمد لله رب العالمين و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, ‘Abdullāh Roy di kota Al-Madīnah An-Nabawiyyah

Read More

Halaqah 24 | Silsilah Belajar Tauhid | Menyadarkan Nikmat Kepada Allāh Ta’āla

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

📘 Silsilah Belajar Tauhid

Halaqah 24 | Menyadarkan Nikmat Kepada Allāh Ta’āla

~~~~~~~~~~~~~~~

MENYANDARKAN NIKMAT KEPADA ALLĀH TA’ĀLA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-24 berjudul “Menyandarkan Nikmat Kepada Allāh”.

Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap Muslim bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allāh.

Allāh berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya adalah dari Allāh.” (QS An Nahl: 53)

Dan termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allāh kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allāh. Seperti mengatakan:

  • “Kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka.”
  • “Kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri.”
  • “Kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh.”

Ini semua adalah menyandarkan kenikmatan kepada sebab. Allāh berfirman:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا

“Mereka mengenal nikmat Allāh kemudian mereka mengingkarinya.” (QS An Nahl: 83)

Seharusnya dia sandarkan kenikmatan tersebut kepada Allāh, Zat yang menciptakan sebab. Seperti dengan mengatakan:

  • “Kalau bukan karena Allāh niscaya kita sudah celaka.”
  • “Kalau bukan Allāh niscaya uang kita sudah hilang.”
  • “Kalau bukan karena Allāh niscaya saya tidak akan sembuh.”

Karena apa?

Karena Allāh-lah yang memberikan:

  • Nikmat keselamatan
  • Nikmat keamanan
  • Nikmat kesembuhan

Sedangkan makhluk hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita.

Kalau Allāh menghendaki niscaya Allāh tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita.

Ini semua, bukan berarti seorang Muslim tidak boleh berterima kasih kepada orang lain.

Seorang Muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka menjadi sebab kenikmatan ini.

Bahkan diperintah untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan do’a yang baik.

Namun pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allāh semata.

والله تعالى أعلم

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, ‘Abdullāh Roy

Read More

Halaqah 23 | Silsilah Belajar Tauhid | Ta’at Ulama Dalam Kebenaran

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

📘 Silsilah Belajar Tauhid

Halaqah 23 | Ta’at Ulama Dalam Kebenaran

~~~~~~~~~~~~~~~

TA’AT ULAMA DALAM KEBENARAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah kita adalah tentang “Ta’at Ulama Dalam Kebenaran”.

Ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu tentang Allāh dan juga agamanya. Ilmu yang membawa dirinya untuk bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Mereka adalah pewaris para nabi dan kedudukan mereka di dalam agama Islam adalah sangat tinggi.

Allāh telah mengangkat derajat para ulama dan memerintahkan kita untuk ta’at kepada mereka selama mereka menyeru dan mengajak kepada kebenaran dan juga kebaikan.

Allāh Ta’ālā berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allāh dan ta’atlah kepada Rasul dan ulil amri kalian.” (QS An Nisā: 59)

Dan ulil amri disini mencakup ulama & juga umarā (pemerintah). Menghormati mereka (yaitu para ulama) bukan berarti menta’ati mereka dalam segala hal sampai kepada kemaksiatan.

Ulama, ayyuhal ikhwah, seperti manusia yang lain. Ijtihad mereka terkadang salah dan terkadang benar.

  • Kalau benar, mereka mendapatkan 2 pahala.
  • Kalau salah, mereka mendapatkan 1 pahala.

Apabila jika telah jelas kebenaran bagi seorang Muslim dan jelas bahwasanya seorang ulama menyelisihi tersebut dalam sebuah permasalahan, maka tidak boleh seseorang menta’ati ulama tersebut kemudian dia meninggalkan kebenaran.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Tidak ada keta’atan dalam kemaksiatan. Sesungguhnya keta’atan hanya didalam kebenaran.” (Muttafaqun ‘alaih)

Apabila seseorang menta’ati ulama dalam kemaksiatan kepada Allāh, maka dia telah menjadikan ulama tersebut sebagai pembuat syariat dan bukan penyampai syariat, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi & Nashrani.

Allāh berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ الله…

“Mereka (orang-orang Yahudi & Nasrani) menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai sesembahan selain Allāh.” (QS At Taubat: 31)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan ayat ini, Beliau mengatakan:

“Ketahuilah bahwa mereka bukan beribadah kepada para ulama & ahli ibadah tersebut, akan tetapi mereka, apabila menghalalkan apa yang Allāh haramkan, maka mereka ikut menghalalkan.

Dan apabila ulama & ahli ibadah tersebut mengharamkan apa yang Allāh halalkan maka mereka pun ikut mengharamkan.” (Hadits ini hasan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Itulah halaqah yang ke-23 sampai bertemu pada halaqah yang selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Saudaramu, ‘Abdullāh Roy

Read More

Halaqah 22 | Silsilah Belajar Tauhid | Takut Kepada Allāh

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

📘 Silsilah Belajar Tauhid

Halaqah 22 | Takut Kepada Allāh

~~~~~~~~~~~~~~~

TAKUT KEPADA ALLĀH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Takut Kepada Allāh”.

Ayyuhal ikhwah, Di antara keyakinan seorang muslim adalah bahwasanya manfaat dan mudharat adalah di tangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata.

Seorang Muslim tidak takut kecuali kepada Allāh dan tidak bertawakal kecuali kepada Allāh.

Takut kepada Allāh yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya untuk:

  1. Merendahkan diri di hadapan Allāh.
  2. MengagungkanNya.
  3. Membawanya untuk menjauhi larangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
  4. Melaksanakan perintahNya.

Bukan takut :

  • Yang berlebihan yang membawa kepada keputusasaan terhadap rahmat Allāh.
  • Yang terlalu tipis yang tidak membawa pemiliknya kepada keta’atan kepada Allāh .

Takut seperti ini adalah ibadah. Tidak boleh sekali-sekali seorang Muslim menyerahkan takut seperti ini kepada selain Allāh.

Dan barangsiapa menyerahkannya kepada selain Allāh, maka dia telah terjerumus ke dalam syirik besar, yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Seperti orang yang takut (terkena) mudharat (dengan) wali fulan yang sudah meninggal kemudian takut tersebut menjadikan dia merendahkan diri di hadapan kuburannya dan juga mengagungkannya.

Hendaknya seorang Muslim meneladani Nabi Ibrāhīm ‘Alaihissalām ketika beliau berkata yang artinya:

“Dan aku tidak takut dengan sesembahan kalian, mereka tidak memudharati aku kecuali apabila Rabbku menghendakinya.” (QS Al An’ām: 80)

Di antara takut yang diharamkan adalah takutnya seseorang kepada makhluq yang melebihi takutnya kepada Allāh, sehingga takut tersebut membuat dia meninggalkan perintah Allāh atau melanggar larangan Allāh. Seperti:

  • Orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-orang kafir. Atau,
  • Tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu. Allāh berfirman yang artinya: “Sesungguhnya itu hanyalah syaithān yang menakut-nakuti kalian, wahai orang-orang yang beriman, dengan wali-walinya (penolong-penolongnya). Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kalian kepadaKu jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS Āli ‘Imrān: 175 )

Di antara cara menghilangkan rasa takut kepada makhluq yang diharamkan adalah:

  • Berlindung kepada Allāh dari bisikan syaithan.
  • Mengingat sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang artinya: “Ketahuilah bahwa seandainya umat semuanya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis. Dan seandainya mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan mudharat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis.” (HR Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh Al Albani Rahimahullāh)

Diperbolehkan takut yang merupakan tabiat manusia, seperti:

  • Takut kepada panasnya api.
  • Takut kepada binatang buas.

Dan takut seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan juga bukan takut yang membawa seseorang meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allāh.
Ini adalah takut yang tabiat, yang para Nabi pun tidak terlepas darinya.

Itulah halaqah yang ke-22 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, ‘Abdullāh Roy

Read More

Halaqah 21 | Silsilah Belajar Tauhid | Cinta Kepada Allāh Ta’āla

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

📘 Silsilah Belajar Tauhid

Halaqah 21 | Cinta Kepada Allāh Ta’āla ~~~~~~~~~~~~~~~

CINTA KEPADA ALLĀH TA’ĀLA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang Cinta Kepada Allāh”.

Mencintai Allāh merupakan ibadah yang agung. Cinta yang merupakan ibadah ini mengharuskan seorang Muslim merendahkan dirinya di hadapan Allāh, mengagungkan Allāh, yang akhirnya akan membawa seseorang untuk melaksanakan perintah Allāh dan juga menjauhi apa yang Allāh larang.

Inilah cinta yang merupakan ibadah. Barangsiapa yang menyerahkan cinta seperti ini kepada selain Allāh maka dia telah berbuat syirik besar. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﺨِﺬُ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ ﻳُﺤِﺒُّﻮﻧَﻬُﻢْ ﻛَﺤُﺐِّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﺷَﺪُّ ﺣُﺒًّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allāh sebagai sekutu-sekutu Allāh. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allāh. Adapun orang-orang yang beriman maka cinta mereka kepada Allāh jauh lebih besar”. (QS Al Baqarah: 165)

Adapun cinta yang merupakan tabi’at manusia, seperti cinta keluarga, harta, pekerjaan dan lain-lain, maka hal ini diperbolehkan selama tidak melebihi cinta kita kepada Allah.

Apabila seseorang mencintai perkara-perkara tersebut melebihi cintanya kepada Allāh maka dia telah melakukan dosa besar.

Allāh berfirman yang artinya: “Katakanlah; ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan juga rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, itu semua lebih kalian cintai daripada Allāh dan Rasul-Nya dan juga berjihad di jalan Allāh, maka tunggulah sampai Allāh Subhānahu wa Ta’āla mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allāh tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS At Taubah: 24)

Ketika terjadi pertentangan antara dua kecintaan maka disini akan nampak siapa yang lebih dia cintai.

Dan akan nampak siapa yang cintanya benar dan siapa yang cintanya hanya sebatas ucapan saja.

Diantara cara untuk memupuk rasa cinta kita kepada Allāh adalah dengan:

  • Mentadabburi (memperhatikan) ayat-ayat Al Qurān.
  • Memikirkan tanda tanda kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla di alam semesta.
  • Mengingat-ingat berbagai kenikmatan yang Allāh berikan.

Itulah halaqah yang ke-21 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, ‘Abdullāh Roy

Read More

Halaqah 20 | Silsilah Belajar Tauhid | RIYĀ’

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

📘 Silsilah Belajar Tauhid

Halaqah 20 | RIYĀ’

~~~~~~~~~~~~~~~

RIYĀ’

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Riyā”.

Ayyuhāl ikhwāh, Riyā’ adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena ingin pahala dari Allāh, akan tetapi ingin dilihat manusia dan dipuji.

Riyā’ hukumnya HARAM dan dia termasuk syirik kecil yang samar, yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

Riyā’ adalah di antara sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang, bagaimanapun besar amalan tersebut.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﺍﻟﺸُّﺮَﻛَﺎﺀِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﺃَﺷْﺮَﻙَ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﻌِﻲ ﻏَﻴْﺮِﻱ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻪُ ﻭَﺷِﺮْﻛَﻪُ

“Allāh berkata: ‘Aku adalah Zat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikannya’.” (HR Muslim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk diampuni Allāh, artinya dia harus diadzab supaya bersih dari dosa riyā’ tersebut.

Berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allāh, yang;

  • Kalau Allāh menghendaki maka akan diampuni langsung. Dan,
  • Kalau Allāh menghendaki maka akan diadzab. Mereka berdalil dengan keumuman ayat:
  • ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ “Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki.” (QS An Nisā: 48

Tahukah kita siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan mereka?

Mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam tapi mereka justru adalah orang-orang yang beramal shalih.

Mereka adalah orang yang:

  • Mengajarkan Al Qurān supaya dikatakan sebagai seorang qāri, seorang yang suka membaca, seorang yang mahir membaca.
  • Orang yang berinfaq supaya dikatakan dermawan.
  • Berjihad supaya dikatakan sebagai seorang pemberani.

Beramal bukan karena Allāh Sebagaimana hal ini dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadits yang shahih.

Oleh karena itu, saudara sekalian, ikhlash-lah di dalam beramal. Dan ikhlash adalah barang yang sangat berharga.

Para salaf kita, merekapun merasakan beratnya memperbaiki hati mereka. Dan hanya kepada Allāh kita meminta keikhlashan di dalam beramal, menjauhkan kita dari riyā’, sum’ah, ‘ujub dan berbagai penyakit hati.

Dan marilah kita biasakan untuk menyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada mashlahat yang lebih kuat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-20 ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Saudaramu, ‘Abdullāh Roy

Read More

Halaqah 18 | Silsilah Belajar Tauhid | Meramal Nasib Dengan Bintang

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

📘 Silsilah Belajar Tauhid

Halaqah 18 | Meramal Nasib Dengan Bintang

~~~~~~~~~~~~~~~

MERAMAL NASIB DENGAN BINTANG

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين.

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Meramal Nasib Dengan Bintang”.

Bintang adalah makhluq yang menunjukkan kebesaran Allāh dan kebesaran Penciptanya.

Allāh Ta’āla telah mengabarkan di dalam Al-Qurān bahwa bintang ini memiliki 3 faidah:

  1. Sebagai perhiasan langit.
  2. Sebagai pelempar syaithān.
  3. Sebagai petunjuk manusia, seperti :
  • Mengetahui arah utara atau selatan ⇒
  • Mengetahui arah daerah, arah kiblat ⇒
  • Mengetahui kapan datangnya musim menanam, musim hujan dan lain-lain.

Allāh tidak menciptakan bintang untuk perkara yang lain selain 3 perkara di atas.

Seorang salaf, Qatādah Ibn Di’āmah As-Sadūsi, seorang ulama yang meninggal kurang lebih pada tahun 110 H. Beliau menjelaskan bahwa, “Barangsiapa yg meyakini bahwasanya bintang memiliki faidah yang lain, selain 3 hal di atas maka dia telah bersalah dan berbicara tanpa ilmu.”

Ucapan ini dikeluarkan Al-Imām Al-Bukhāri di dalam Shahih beliau. Contohnya adalah meyakini bahwasanya terbit & tenggelamnya bintang atau berkumpul & berpisahnya beberapa bintang berpengaruh kepada keberuntungan seseorang di masa yang akan datang, dalam masalah rejeki, jodoh dan lain-lain.

Seperti kolom yang ditemukan di beberapa koran dan juga majalah. Membacanya dan mempercayainya adalah perbuatan yang haram dan termasuk dosa besar.

Sebagian ulama mengatakan hukumnya seperti orang yang mendatangi dukun dan bertanya kepadanya. Ancamannya tidak diterima shalatnya selama 40 hari. Hendaknya kita semua takut kepada Allāh. Dan janganlah sekali-kali mencoba membaca kolom-kolom tersebut.

Dan jangan juga memasukkannya ke dalam rumah kita. Kita tutup segala pintu yang bisa merusak ‘aqidah kita dan juga keluarga kita. Karena ‘aqidah merupakan modal kita memasuki surganya Allāh Subhānahu wa Ta’ālā dengan selamat.

Inilah halaqah yang ke-18 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, ‘Abdullāh Roy

Read More

Halaqah 17 | Silsilah Belajar Tauhid | Tathayyur (Merasa Sial Dengan Sesuatu)

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

📘 Silsilah Belajar Tauhid

Halaqah 17 | Tathayyur (Merasa Sial Dengan Sesuatu)

~~~~~~~~~~~~~~~

TATHAYYUR (MERASA SIAL DENGAN SESUATU)

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Pelajaran yang ke-17 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Tathayyur”, yaitu merasa sial dengan sesuatu.

◆ Tathayyur adalah merasa akan bernasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu. Seperti: •

  • Melihat tabrakan •
  • Orang yang berkelahi •
  • Atau yang semisalnya.

Kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya, seperti bepergian, berdagang dan lain-lain.

Tathayyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut kita ikuti. Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang thiyarah menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya maka dia telah berbuat syirik.” (Hadits shahīh diriwayatkan oleh Imām Ahmad) Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir, sebagaimana hal ini dinafikan & diingkari oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda,

وَلاَ الطِّيَارَة

“Tidak ada thiyārah.” (HR Bukhari dan Muslim) ⇒

Maksudnya, thiyārah ini hanya sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengaruh terhadap takdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu seorang Muslim tidak boleh mengikuti was-was syaithān ini.

Dan hendaknya dia,

  • Memiliki keyakinan yang kuat bahwa semua yang terjadi di permukaan bumi berupa kebaikan & keburukan adalah dengan takdir Allāh semata.
  • Yakin bahwa tidak (ada yang) mendatangkan kebaikan kecuali Allāh & tidak (ada yang) melindungi dari keburukan kecuali Allāh.
  • Hanya bertawakal kepada Allāh semata & berbaik sangka kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.

Apabila datang perasaan tersebut maka hendaknya segera dihilangkan dengan tawakkal dan tetaplah dia melaksanakan hajatnya.

Dan apa yang terjadi setelah itu adalah takdir Allāh semata.

Adapun tafā’ul maka diperbolehkan didalam agama kita.

◆ Tafā’ul artinya adalah berbaik sangka kepada Allāh karena melihat atau mendengar sesuatu. Dahulu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sering bertafā’ul seperti ketika Perjanjian Hudaibiyah.

Utusan Quraisy saat itu bernama Suhail. Dan Suhail adalah bentuk pengecilan dari kata “sahl” yang artinya “yang mudah”. Maka Beliau pun berbaik sangka kepada Allāh bahwa perjanjian ini akan membawa kemudahan & kebaikan bagi umat Islam. Maka benarlah persangkaan Beliau. Allāh Subhānahu wa Ta’ālā membuka setelah itu (yaitu setelah perjanjian tersebut) pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.

Itulah halaqah yang ke-17 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية و السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Saudaramu, ‘Abdullāh Roy

Read More

Halaqah 16 | Silsilah Belajar Tauhid | Perdukunan

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

📘 Silsilah Belajar Tauhid

Halaqah 16 | Perdukunan

➖➖➖➖➖➖➖➖➖

PERDUKUNAN

بسم اللّه الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-16 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang Perdukunan.

Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghaib yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, seperti:

  • Mengetahui barang yang hilang, pencurinya
  • Mengetahui ramalan nasib
  • Dan lain-lain.

Dia mengaku mengetahui hal-hal tersebut dengan cara-cara tertentu seperti dengan:

  • Melihat bintang •
  • Menggaris di tanah •
  • Melihat air di mangkok •
  • Dan lain-lain.

Dengan cara ini para dukun memakan harta manusia.

Saudaraku sekalian, ketahuilah bahwa perdukunan dengan namanya yang bermacam-macam adalah perkara yang diharamkan di dalam agama Islam.

Ilmu ghaib yang mereka akui pada hakikatnya adalah kabar dari jin yang mereka mintai bantuan.

Sedangkan cara-cara tersebut hanyalah untuk menutupi kedoknya sebagai seorang yang meminta bantuan jin & juga syaithān.

Kita sudah mengetahui bersama bahwa iblis sudah berjanji akan menyesatkan manusia dan menyeret mereka bersamanya ke dalam neraka.

Iblis & juga keturunannya tidak akan membantu sang dukun kecuali apabila dukun tersebut kafir kepada Allāh.

Para ulama menghukumi dukun sebagai orang yang kafir dengan sebab ini. Dan harta yang dia dapatkan dari pekerjaan ini adalah harta yang haram.

Berkaitan dengan ramalan yang kadang benar maka sebagaimana yang dikabarkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadits yang shahih, bahwa para jin bekerjasama untuk mencuri kabar dari langit.

Apabila mendengar sesuatu maka jin yang di atas akan mengabarkan kepada yang di bawahnya dan seterusnya, sehingga sampai ke telinga dukun.

Terkadang dia terkena lemparan bintang sebelum menyampaikan kabar tersebut. Dan terkadang pula sempat menyampaikan sebelum akhirnya terkena lemparan bintang.

Kabar sedikit ini atau kabar sedikit yang sampai ini akan ditambah-tambahi oleh dukun tersebut dengan kedustaan yang banyak.

Apa yang benar terjadi sesuai dengan yang dia kabarkan akan dijadikan alat mencari pembenaran & kepercayaan dari manusia.

Orang Islam dilarang sekali-kali datang ke dukun dengan maksud meminta bantuan, bagaimanapun susahnya keadaan dia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun kemudian membenarkan apa yang dia ucapkan, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR Abū Dāwūd, at-Tirmidzi, Ibnu Mājah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh).

Dalam hadits yang lain Beliau mengatakan:

مَنْ أتى عَرَّافًا فَسَأَلهُ عَنْ شَئٍ لم تقْبَل لَهُ صَلاةُ أربعينَ ليلةً

“Barangsiapa yang mendatangi dukun kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidak diterima darinya shalat selama 40 hari.” (HR Muslim)

Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa mendatangi dukun tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam, namun kedua hadits di atas cukup menunjukkan besarnya dosa orang yang mendatangi dukun.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menjadikan kita merasa cukup dengan yang halal & menjauhkan kita dari yang haram.

Itulah halaqah yang ke-16 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, ‘Abdullāh Roy

Read More

Halaqah 15 | Silsilah Belajar Tauhid | Sihir

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

📘 Silsilah Belajar Tauhid

Halaqah 15 | Sihir

➖➖➖➖➖➖➖➖➖

SIHIR

بسم اللّه الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Sihir”.

Ayyuhal ikhwah, sihir bermacam-macam jenisnya. Dan sihir yang merupakan kesyirikan adalah sihir yang terjadi dengan meminta pertolongan kepada syaithān.

Dan syaithān tidak akan menolong seseorang kecuali setelah melakukan perkara yang dia ridhai, yaitu kufur (kāfir) kepada Allāh, dengan cara:

⑴ Menyerahkan sebagian ibadah kepada syaithān tersebut.

⑵ Menghina Al-Quran.

⑶ Mencela agama.

⑷ Dan lain-lain.

Allāh berfirman:

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Dan bukanlah Sulaiman yang kafir, akan tetapi syaithān-syaithānlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (Al-Baqarah 102)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya): “Jauhilah 7 perkara yang membinasakan.” Para shahābat bertanya, “Ya Rasūlullāh, apa 7 perkara tersebut?” Maka Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan: “Syirik kepada Allāh, sihir,…(dst).” (Muttafaqun ‘alaih)

Hukuman bagi seorang tukang sihir jenis ini adalah hukuman mati bila dia tidak bertaubat, sebagaimana telah dicontohkan oleh para shahābat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan yang berhak untuk melakukan hukuman tersebut adalah pemerintah yang sah dan bukan individu.

Mempelajari sihir termasuk perkara yang diharamkan.

Bahkan sebagian ulama menghukumi pelakunya keluar dari Islam.

Demikian pula meminta supaya disihirkan juga perbuatan yang haram karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa bukan termasuk pengikut Beliau (yaitu) orang yang menyihir & orang yang meminta disihirkan.

Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh.

Seorang Muslim hendaknya mengambil sebab untuk membentengi diri dari sihir. Diantaranya adalah:

⑴ Dengan menjaga dzikir-dzikir yang di syariatkan, seperti:

  • Dzikir pagi & petang •
  • Dzikir-dzikir setelah shalat 5 waktu •
  • Dzikir akan tidur •
  • Dzikir mau makan •
  • Dzikir masuk & keluar rumah •
  • Dzikir masuk & keluar kamar kecil •
  • Dan lain-lain.

⑵ Dan membersihkan diri dan juga rumah dari perkara-perkara yang membuat ridha syaithān, seperti: •

  • Jimat-jimat •
  • Musik-musik •
  • Gambar-gambar makhluk bernyawa •
  • Dan lain-lain.

Dan apabila qaddarullāh terkena sihir maka hendaknya dia:

  • Bersabar.
  • Merendahkan diri kepada Allāh.
  • Memohon darinya kesembuhan, dan
  • Berpegang dengan ruqyah-ruqyah yang disyariatkan.
  • Dan jangan sekali-kali dia berusaha untuk menghilangkan sihir dengan cara meminta bantuan jin, baik secara langsung maupun lewat dukun, paranormal dan yang semisal dengan mereka.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’ālā melindungi kita dan juga keluarga kita dari semua kejelekan di dunia dan juga di akhirat.

Itulah halaqah yang ke-15 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

Saudaramu, ‘Abdullāh Roy

Read More